Persaudaraan yang Bukan di Bibir Saja


“Dalamnya laut dapat diduga, tapi dalamnya hati, siapa yang tahu?” Kira-kira itulah ungkapan singkat untuk menggambarkan betapa susahnya pada zaman ini menjalin pertemanan. Masing-masing orang sudah dihantui rasa curiga dan waspada. Sikap waspada melahirkan perilaku hati-hati yang berlebihan, sehingga akhirnya jika pun pertemanan terjalin, rasanya kaku dan hambar. Jauh-jauh, dekat-dekat, serasa dekat tapi ada sekat.

Apalagi dengan banyaknya kejadian yang dipertontonkan di TV, aksi saling jebak antar aparat penegak hukum, saling intai dan saling sadap, semakin membuat nilai persahabatan dan hubungan kerja menjadi penuh kecemasan. Imbasnya, orang-orang biasa mulai saling membatasi diri, karena masing-masing ketakutan bahwa temannya akan melakukan kejahatan pada dirinya.

Jika persahabatan saja sudah rapuh, manalah bisa persaudaraan terjalin? Sementara keutuhan sebuah masyarakat hanya dapat terjadi ketika antar anggotanya saling percaya. Salah seorang Pakar dalam bidang Sosiologi asal UI bahkan pernah menyatakan, masyarakat Jakarta sedang menuju sebuah fase yang disebut ‘Age of Extremity’ (masa ekstrim). Terdapat jurang yang lebar antar status sosial, yang satu dengan mudah berhamburan uang, sementara yang lain sibuk mengais sampah jalanan. Agama kita mengajarkan bagaimana seharusnya berteman dan berhubungan dengan orang lain, mari kita simak hadist berikut:

Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian saling dengki, saling menipu, saling marah dan saling memutuskan hubungan. Dan janganlah kalian menjual sesuatu yang telah dijual kepada orang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lainnya, (dia) tidak menzaliminya dan mengabaikannya, tidak mendustakannya dan tidak menghinanya. Takwa itu di sini (seraya menunjuk dadanya sebanyak tiga kali). Cukuplah seorang Muslim dikatakan buruk jika dia menghina saudaranya yang Muslim. Setiap Muslim atas Muslim yang lain; haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya. (HR Muslim)

Dari untaian kata-kata dalam hadis tersebut kita dapat mengambil beberapa pelajaran: Pertama, larangan untuk tidak saling dengki. Perbuatan dengki sangat merugikan diri sendiri karena kita menyibukkan diri dengan dengki kepada orang lain, dengki dengan kesuksesan orang lain, dengan kebahagiaan orang lain. Daripada dengki kepada orang lain lebih baik kita berusaha sekeras mungkin untuk menggapai cita-cita. 

Kedua, larangan untuk berbuat keji dan menipu dalam urusan jual beli. Akhir-akhir ini banyak sekali kita lihat di TV tentang kecurangan yang dilakukan pedagang untuk mengelabui konsumen, kasus ayam tiren (mati kemaren), tahu mengandung formalin, dan sapi gelonggongan adalah beberapa contohnya.

Ketiga, diharamkan untuk memutuskan hubungan terhadap Muslim dan menghina sesama. Mau seperti apa masyarakat kita jika warganya saling mengejek dan melecehkan? Kita tidak berhak melecehkan orang, bagaimanapun rupanya, apapun pekerjaannya, bahkan dari agama mana dia berasal dan tingkat sosial yang disandangnya. Mengeluarkan ejekan hanya mengotori mulut kita dan di bulan Ramadan yang suci, hal itu menjadi sumber kerusakan puasa kita.

Keempat, hati merupakan sumber rasa takut kepada Allah, rasa bertakwa kepada sang pencipta. Oleh karena itu gunakanlah hati kita untuk memepertebal ketakwaan kepada Allah, patrikan dalam hati bahwa Allah dapat melihat kita di manapun kita berada, dan takutlah berbuat lalim karena Tuhan pasti akan membalas perbuatan itu.

Ingatlah, persaudaraan manusia tidak terletak pada manisnya kata atau berserinya wajah, tapi di hati yang tulus.

About Pakdhe Phantom

My Life Is My Journey
This entry was posted in About Islam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s