Merahasiakan Sedekah


Manusia punya naluri pamer, itu adalah pasti. Dengan pamer, dia akan merasa senang dan bangga dengan yang diperbuatnya. Dia ingin semua orang tahu betapa baiknya dia, betapa besar nilai uang yang dia santunkan kepada orang lain dan sebagainya. Sebagai imbalannya, dia biasanya minta dihormati, diagungkan dan dipuji. Betapa mahalnya nilai sebuah pujian pada zaman sekarang. Mahal, karena semua diukur dengan materi.

Buruknya lagi, masyarakat pun seolah ‘menunggu-nunggu’ aksi sosial dari orang yang dianggap kaya di wilayahnya. Jika si kaya tadi membagi hadiah, maka masyarakat akan menyanjungnya, namun jika sepi-sepi saja, maka masyarakat akan mencelanya. Masyarakat sudah menjelma sebagai pengawas atas kekayaan orang lain dan menjadi pihak yang selalu menuntut untuk diberi, secara terang-terangan.

Berburuk sangka pada orang yang ‘tampaknya’ tidak pernah membagi uang persen atau hadiah sudah menjadi lagu di kalangan warga Muslim kita. Padahal, mungkin saja, si orang kaya yang dicela sebagai ‘orang pelit’ itu sebenarnya telah melakukan banyak amal kebaikan, yang memang sengaja dia rahasiakan. Si orang kaya ini tahu, bahwa bersedekah haruslah rahasia, dan beramal seperti haruslah selalu ditutupi.

Dalam hadis riwayat Abu Hurairah RA disebutkan, Dari Nabi SAW, beliau bersabda: Ada tujuh golongan yang bakal dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dengan ibadah kepada Allah (selalu beribadah), seseorang yang hatinya bergantung kepada mesjid (selalu melakukan salat jamaah di dalamnya), dua orang yang saling mengasihi di jalan Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, seorang yang diajak perempuan berkedudukan dan cantik (untuk berzina), tapi ia mengatakan: Aku takut kepada Allah, seseorang yang memberikan sedekah kemudian merahasiakannya sampai tangan kanannya tidak tahu apa yang dikeluarkan tangan kirinya dan seseorang yang berzikir (mengingat) Allah dalam kesendirian, lalu meneteskan air mata dari kedua matanya. (HR. Muslim, dinyatakan shahih)

Perlu ada pendidikan kepada masyarakat bahwa seyogyanya mereka tidak perlu menjadi polisi amal bagi orang lain. Masing-masing haruslah mengoreksi diri mereka dan fokus dengan amalnya sendiri-sendiri. Dengan demikian, konflik sosial yang muncul karena semata fitnah, dapat dihindari dengan baik.

Wallahu a’lam.

About Pakdhe Phantom

My Life Is My Journey
This entry was posted in About Islam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s