Menjinakkan Hawa Nafsu


Nafsu adalah unsur penting di dalam kehidupan setiap orang. Penampilan lahiriah dan batiniah seseorang sangat dipengaruhi oleh keadaan nafsu seseorang.

Ketahuilah bahwa di dalam diri seseorang ada suatu substansi. Jika substansi itu baik, maka akan berpengaruh positif pada penampilan fisik, dan jika substansi itu rusak, maka akan berpengaruh negatif pula pada penampilan fisik. Substansi yang dimaksud ialah hati, yang biasa juga diistilahkan dengan nafsu.

Al-Qur’an secara umum membedakan tiga jenis nafsu sebagai berikut:

A. Nafs al-ammarah, sebagaimana disebutkan dalam QS Yusuf/12:53

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ciri utama pemilik nafsu ini antara lain dijelaskan di dalam Al Qur’an sebagai berikut:
إ
“Jika kamu memperoleh kebaikan niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana mereka bergembira karenanya” (QS Ali ‘Imran/3:120).

“Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi” (QS Ali ‘Imran/3:118).

Secara umum jenis nafsu ini dapat diidentifikasi sebagai berikut:
1. Mudah melanggar larangan Allah SWT;
2. Mudah mengikuti dorongan hawa nafsu;
3. Mudah melakukan dosa tanpa merasa ada beban.

Pemilik nafsu ini paling rentan dijangkiti penyakit-penyakit hati, antara lain: sombong, kikir, tamak, hasud, berkata kotor, suka merendahkan, boros, gegabah, sewenang-wenang, fitnah, bohong, pamer, tidak tahu malu, munafik, keluh-kesah, malas, buruk sangka, cepat marah, dan dengki.

B. Nafs al-lawwamah, sebagaimana disebutkan dalam QS al-Qiyamah/75:2:
Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).

Yang dimaksud dengan nafs al-lauwwamah ialah nafsu yang suka mencela, baik terhadap orang lain maupun terhadap dirinya sendiri. Ciri-ciri umum pemilik nafsu ini antara lain dijelaskan dalam Al Qur’an: “Supaya jangan ada orang yang mengatakan: “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah).” (QS az-Zumar/39:56).

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.” (QS al-Ma’arij/70:19-21).

Pemilik nafsu ini sering melakukan kebaikan tetapi pada saat bersamaan juga melakukan dosa dan keburukan. Mereka inilah yang mencampuradukkan antara kebaikan dan keburukan. Mereka inilah yang sering double standard atau bermuka dua, terkadang sok saleh dan sok suci, membenci keburukan tetapi pada kesempatan lain mendukung dan kerapkali melakukan dosa.

Pemilik nafsu ini masih agak beruntung, karena mereka masih mengenal penyesalan dan tobat, bahkan tidak jarang menangis meratapi dosa-dosa masa lalunya, meskipun kerap kali tergelincir lagi, bertobat lagi, dan seterusnya. Pemilik nafsu ini paling sering menyesal, karena menyia-nyiakan kesempatan untuk tidak berbuat baik dan beramal shaleh, menyesal karena sering lalai dan melakukan sesuatu yang dia sadari bahwa pilihan-pilihan nafsunya itu akan membawa penyesalan di kemudian hari. Mudah-mudahan orang seperti ini mendapatkan “khusnul khatimah”, berakhir dengan kebaikan, bukan sebaliknya, “su’ul khatimah”, meninggal dalam keadaan tengah berdosa atau lupa kepada Allah SWT.

C. Nafs al-Muthmainnah, sebagaimana disebutkan dalam QS al-Fajr/89:27: 
Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya, maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku.

Yang dimaksud nafs al-muthmainnah ialah jiwa yang tenang, jiwa yang konstan dan konsisten, istiqamah dalam pendirian, tidak fluktuatif, sekalipun diterpa oleh berbagai krisis.

Ciri-ciri umum pemilik nafs al-muthmainnah dalam Al Qur’an antara lain sebagai berikut:

1. Memiliki keyakinan yang tidak pernah goyah terhadap kebenaran, dalam keadaan bagaimanapun, (QS al-Nahl/16:106)
2. Memiliki rasa aman, terbebas dari rasa phobi, takut, dan keraguan, (QS Fushshilat/41: 30).
3. Hatinya selalu tenteram dan damai karena ingatannya selalu tertuju kepada Allah SWT, (QS al-Ra’d/13:28).

Beruntunglah para pemilik jiwa muthmainnah, karena orang ini tidak lagi pernah merasa sumpek dan tidak pernah lagi ada dendam, serta power struggle. Jiwanya begitu lapang untuk menenggelamkan seluruh cercaan orang lain terhadapnya; perasaan cinta menyelimuti seluruh jiwanya sehingga tidak menyisakan sedikitpun kebencian; kesediaan untuk memaafkan semua orang sehingga tidak menyisakan seorangpun musuh di dalam jiwanya; budi pekertinya begitu halus sehingga tidak menyisakan sedikitpun kekasaran dalam perilakunya; imannya begitu kuat sehingga tidak menyisakan sedikitpun keraguan di dalam hatinya; kesabarannya begitu tinggi sehingga tidak menyisakan sedikitpun keluh kesah; kepercayaan dirinya begitu kokoh sehingga tidak menyisihkan sedikitpun bayangan kekecewaan di dalam dirinya; jihad dan mujahadahnya begitu kuat sehingga tidak pernah terbayang kelesuan dan kemalasan di dalam penampilannya.

Berbahagialah para pemilik jiwa muthmainnah, karena mereka akan dipanggil mesra oleh kekasihnya, Allah SWT dengan panggilan: “Wahai pemilik jiwa yang tenang, kembalilah kepangkuan Tuhanmu dengan penuh keridhaan, bergabunglah bersama kekasihku yang lain, masuklah ke dalam syurga-Ku”.

Adapun upaya-upaya untuk menggapai jiwa yang terakhir ini, antara lain: tafakkur, kesungguhan, pengkondisian diri, penjagaan diri, pengasingan diri, penghiasan jiwa, pensucian jiwa, pengosongan jiwa selain Allah, pengisian Jiwa, dan penampakan sifat-sifat ketuhanan.

Sedangkan jalan-jalan yang mesti dilalui menuju ke sana, antara lain: taubat, zuhud, sabar, kefakiran, kerendahan hati, takwa, tawakal, cinta, ma’rifah, ittihad. Demikianlah, semoga kita semua termasuk orang-orang yang berusaha terus menjadi ‘jiwa muthma’innah’.

About Pakdhe Phantom

My Life Is My Journey
This entry was posted in About Islam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s