Memaksimalkan Ibadah Puasa Ramadan


Dari Sahl bin Sa’d As-Sa’idi RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya di dalam surga terdapat satu pintu yang disebut dengan Bab ar-Rayan. Akan masuk dari pintu tersebut orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat dan tidak akan ada seorang pun yang masuk dari pintu tersebut kecuali mereka. Dikatakan, ‘Di manakah orang-orang yang berpuasa?’ Lalu mereka berdiri. Tidak dapat masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Apabila mereka telah masuk, pintu tersebut ditutup. Dan tidak seorang pun dapat masuk melalui pintu tersebut (kecuali mereka).” (HR Bukhari & Muslim)

Terdapat beberapa hikmah mendalam yang dapat dipetik dari hadis ini, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Bahwa Allah SWT demikian memuliakan sha’imin dan sha’imat hingga menyediakan satu pintu khusus di surga yang diperuntukkan hanya bagi mereka-mereka yang menjalankan ibadah puasa. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah puasa bukanlah sebuah ibadah yang biasa-biasa saja. Namun ibadah puasa memiliki manzilah (posisi) yang sangat mulia di sisi Allah SWT, yang dapat mengantarkan pelakunya masuk ke dalam surga melalui Bab ar-Rayan (pintu ar-Rayan).

2. Oleh karena itulah, penting bagi kita semua untuk menjalankan ibadah puasa secara maksimal, dalam artian mengikuti segala ketentuan hukum yang telah ditetapkan Allah SWT dan Rasulullah Saw. Jangan sampai kita telah bersusah payah menjalan ibadah puasa, namun ternyata kita tidak berhak masuk surga dari pintu ar-Rayan, dikarenakan puasa kita tidak mengikuti ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan baik dalam Al Qur-an maupun As-Sunnah. Di antara ketentuan yang perlu diperhatikan dalam menjalankan ibadah puasa adalah sebagai berikut:

a) Memiliki tekad yang kuat, dan niat yang ikhlas semata-mata mengharap keridhaan Allah SWT. Ibadah puasa Ramadhan merupakan ibadah yang langsung akan diberikan pahala oleh Allah SWT sendiri. Oleh karenanya perlu penekanan pada sisi keikhlasan dalam menjalankannya, yaitu semata-mata hanya mengharap keridhaan Allah SWT. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW: Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, Allah SWT berfirman, “Semua amal ibadah anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Karena puasa itu adalah untuk-Ku dan Akulah yang akan memberikan pahala padanya.” (HR Bukhari)

b) Menginapkan niat, minimal sejak sebelum fajar. Berbeda dengan puasa sunnah yang diperbolehkan untuk berniat setelah terbitnya fajar, dalam puasa Ramadhan, disyaratkan untuk ‘memabitkan’ (baca; menginapkan) niat sejak malam hari, atau minimal sejak sebelum terbit fajar. Rasulullah Saw. bersabda: Dari Hafsah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang tidak memabitkan puasa sejak sebelum fajar, maka tiada puasa baginya.” (HR Nasa’i)‏

c) Makan Sahur. Selain berfungsi untuk memberikan kekuatan selama menjalankan ibadah puasa, sahur merupakan sunnah yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan. Karena dalam sahur terdapat ‘keberkahan’ dari Allah SWT, yang mungkin tidak terdapat pada waktu-waktu yang lain. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW: Dari Anas bin Malik RA, bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya pada makan sahur itu terdapat keberkahannya.” (HR Bukhari)‏

d) Mengakhirkan sahur. Sahur dianjurkan untuk diakhirkan hingga menjelang waktu subuh. Dalam sebuah hadits diriwayatkan: Dari Anas bin Malik RA bahwasanya Zaid bin Tsabit menyampaikan padanya bahwasanya mereka sahur bersama Rasulullah SAW, kemudian mereka bangkit untuk melaksanakan salat. “Aku (Anas bin Malik) bertanya, “Berapa jarak antara keduanya (antara sahur dan shalat)? Zaid berkata, “Sekitar 50 atau 60-an ayat”. (HR Bukhari)‏

e) Banyak beristighfar pada waktu-waktu sahur (sebelum subuh)‏. Waktu sahur (sebelum subuh atau sepertiga malam terakhir), merupakan waktu-waktu yang sangat baik untuk bermunajat kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya: “Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (QS Addzariyat (51): 18)

Oleh karenanya, hendaknya di waktu-waktu tersebut, kita mengurangi ‘tertawa’, dan memperbanyak istighfar dalam munajat kepada Allah SWT, atau diisi dengan membaca Al Quran serta berdzikir memuji keagungan Allah SWT.

Wallahu a’lam bis shawab.

===============================================================

Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang mendirikan Ramadhan (salat tarawih), dengan keimanan dan keikhlasan, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari Muslim)‏

Selain ketentuan-ketentuan dalam melaksanakan ibadah puasa, berikut adalah ketentuan-ketentuan lainnya dalam melaksanakan ibadah puasa Ramadan:

a) Istiqamah Melaksanakan Salat Tarawih. Karena salat tarawih memiliki keutamaan yang tidak dimiliki oleh salat-salat lainnya dan teramat sayang jika ditinggalkan. Dalam hadis diriwayatkan: Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang mendirikan Ramadan (salat tarawih), dengan keimanan dan keikhlasan, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR Bukhari Muslim)‏

b) Memperbanyak Dzikir & Doa. Karena pada bulan Ramadan, khususnya di saat-saat sedang berpuasa, merupakan waktu-waktu yang baik untuk berdoa. Allah SWT berfirman: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al-Baqarah (2): 186)

c) Menjaga Lisan Dari Semua Perkataan yang Tidak Bermanfaat. Karena pada hekikatnya puasa tidaklah sekadar menahan lapar dan dahaga saja. Namun lebih dari itu, puasa adalah menjaga dari segala ucapan yang tidak bermanfaat, apalagi perkataan-perkataan yang kotor, jorok, kasar, menyakitkan dan mengadu domba. Dalam Hadis Qudsi Allah SWT berfirman: “Puasa adalah perisai, maka janganlah berkata keji, janganlah berkata kasar dan janganlah berkata kotor. Dan apabila seseorang mencacinya atau mencelanya maka hendaknya ia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’.” (HR. Bukhari)‏

d) Menjaga Anggota Badan dari Perbuatan yang Tidak Bermanfaat. Selain menjaga lisan dari perkataan yang tidak bermanfaat, juga dianjurkan untuk menjaga anggota badan dari perbuatan yang tidak bermanfaat, seperti berlama-lama menonton TV atau film yang tidak bermanfaat, bermain games, banyak tidur, membaca komik, dsb. Namun hendaknya digunakan untuk beramal ibadah atau membantu orang lain. Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW: Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW. bersabda, “Bisa jadi seorang yang berpuasa, mendapatkan bagian dari puasanya hanyalah rasa lapar dan dahaga. Dan bisa jadi seorang yang salat malam (tarawih) mendapatkan bagian dari salatnya hanyalah begadang saja.” (HR Ahmad)‏

e) Membaca dan Mengkhatamkan Al Qur’an. Ramadan merupakan bulan diturunkannya Al Qur’an. Oleh karenanya, sangat dianjurkan untuk memperbanyak membaca Al Qur’an. Dalam sebuah riwayat dijelaskan: Dari Abdullah bin Amru bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Puasa dan Al Qur’an akan memberi syafa’at bagi seseorang pada hari kiamat.

Puasa berkata, “Ya Allah, Engkau larang ia makan dan memuaskan syahwat di waktu siang, sekarang ia meminta syafa’at kepadaku karena itu.”

Berkata pula Al Qur’an, “Engkau larang ia tidur di waktu malam, sekarang ia meminta syafa’at kepadaku mengenai itu“. Maka syafa’at kedua mereka diterima oleh Allah SWT. (HR Ahmad)‏

f) Menyegerakan Berbuka Puasa. Rasulullah SAW menganjurkan untuk menyegerakan ‘membatalkan’ puasa manakala telah tiba waktu berbuka. Dalam hadits diriwayatkan: Dari Sahl bin Sa’d ra, bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Manusia senantiasa akan mendapatkan kebaikan manakala mereka menyegerakan buka puasa.” (HR. Bukhari Muslim)‏

g)Membaca Doa Ketika Berbuka Puasa. Dianjurkan pula untuk berdoa ketika berbuka puasa. Dalam hadis diriwayatkan:

a) Dari Ibnu Umar r.a. bahwasanya Rasulullah Saw. apabila berbuka puasa beliau berdoa, “Telah hilanglah dahaga, telah basa urat-urat, dan telah ‘tetap’ pahala, insya Allah.” (HR Abu Daud)‏
b) Itikaf Pada Sepuluh Malam-Malam Terakhir di Bulan Ramadan Sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan Rasulullah SAW memaksimalkan ibadah di bulan Ramadan. Dalam sebuah riwayat disebutkan: Dari Abdullah bin Umar RA berkata bahwasanya Rasulullah SAW senantiasa beri’tikaf pada 10 malam terakhir di bulan Ramadhan. (HR Bukhari) ‏
c) Memberikan Buka Puasa Bagi Sha’imin. Memberikan buka puasa bagi orang-orang yang berpuasa memiliki keutamaan yang besar. Dan hendaknya setiap kita tidak menganggap kecil amalan ini karena dalam sebuah riwayat disebutkan: Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang memberikan buka puasa kepada orang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala dia orang yang berpuasa sedikit pun.” (HR Turmudzi)‏

Mudah-mudahan dengan menjalankan beberapa hal tersebut di atas, Allah SWT berkenan mengkategorikan kita sebagai sha’imin dan sha’imat, yang kelak dapat masuk surga melalui Bab ar-Rayan.

Amin Ya Rabbal Alamin.

Wallahu a’lam bis shawab.

About Pakdhe Phantom

My Life Is My Journey
This entry was posted in About Islam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s