Masalah Klasik Kenaikan Harga menjelang Bulan Ramadhan


Menjelang memasuki Ramadan, harga berbagai kebutuhan pokok sudah meroket di berbagai dae­rah. Ini fenomena yang terjadi setiap tahun, tren ke­naikan harga yang naik se­belum bulan Ramadan, konsekuensinya membuat rakyat semakin susah, ditambah lagi kondisi ekonomi yang serba sulit. Pertanyaannya kemudian adalah kebijakan apa yang akan dilaksanakan oleh pemerintah untuk mengatasi persoalan musiman ini? Selama ini kebijakan yang dikeluarkan tidak membuat pengaruh apa-apa seperti operasi pasar. Dapat dipastikan bahwa pemerintah selalu kelabakan untuk mengantisipasinya.

Kenaikan sangat signifikan itu akan berdampak pada rakyat, khu­susnya mereka yang berpendapatan menengah dan ke bawah. Kenaikan ini akan menggerus daya beli rakyat yang memang sudah sangat rendah, pendapatan rumah tangga miskin semakin merosot, sedangkan harga kebutuhan pokok terus meroket. Biasanya kenaikan harga ini bersifat momentum, tetapi harga tidak pernah kembali menjadi normal setelah momentumnya usai. Karena ini bersifat momentuman, pemerintah mestinya bisa melakukan antisipasi. Tetapi kelihatannya pemerintah sengaja membiarkan harga itu naik secara tidak normal.

Sebelum memasuki bulan suci Ramadan masyarakat dibuat tidak tenang, akibat melambungnya harga kebutuhan pokok, tidak hanya sampai disitu, perantau yang ingin pulang ke halaman juga mengeluh akibat harga tiket yang naiknya tidak tanggung-tangung, belum lagi kelang­kaan BBM yang membuat kegiatan masyarakat terhenti untuk beraktifitas.

Meningkatnya harga beberapa komoditas pangan menjelang Rama­dan bukan karena kelangkaan barang. Namun lebih disebabkan. Pertama, faktor psikologi penjual dan agen barang. Persediaan barang sebenarnya tetap cukup untuk memenuhi permin­taan konsumen yang melonjak. Mereka memanfaatkan momen dengan menaikkan harga menjelang perayaan hari-hari besar demi mengeruk keuntungan. Ditambah lagi dengan perilaku konsumen yang tetap berbelanja walau harga meningkat.

Ada beberapa hal yang menjadi faktor kenaikan harga :
Pertama, kenaikan harga sembako ini akan berjalan berba­rengan dengan ancaman krisis pangan dunia.
Ada lima faktor pemicu kenaikan harga pangan dunia :
1. sebagai dampak kenaikan harga minyak dunia (kenaikan biaya produksi)
2. penggunaan bahan pangan untuk biofuel
3. penghan­curan produksi pertanian negara dunia ketiga
4. perubahan iklim.

Kedua, maka hukum pasar berla­ku, padahal kemampuan mem­beli masyarakat rendah karena naiknya harga tidak diimbangi dengan meningkatnya jumlah pen­dapatan. Masyarakat seakan tidak memiliki pilihan. Meskipun harga berbagai kebutuhan pokok naik, mereka tetap membelinya untuk memenuhi kebu­tuhan menyambut Ramadan.

Ketiga, dipicu tradisi para pedagang yang menyetok barang yang akan dijual kembali pada harga tinggi.

Keempat, adanya masyarakat yang membeli dengan jumlah lebih dari biasanya.

Kelima, selain dua faktor ini, ada dua isu besar lainnya yang ikut mendongkrak kenaikan harga, yakni kenaikan gaji pegawai negeri sipil (PNS) dan adanya gaji ke-13 yang baru dibayar pada awal bulan puasa.

Akibat langkanya BBM berdampak pada harga premium eceran. Biasanya Rp 5.000 per botol naik menjadi Rp 5.500 hingga Rp 6.000 per botol. Para penjual eceran mengaku mengambil keuntungan yang lumayan, antara Rp 1.000 hingga Rp 1.500 per liter dari harga yang dibeli dari SPBU.

About Pakdhe Phantom

My Life Is My Journey
This entry was posted in The Stories. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s