Tradisi Tebokan dan Asal Usul Jenang Kudus


Dari Kejahuan tampak Mbah Dempok Soponyono memimpin rombongan para pengirab jenang dengan berkuda. Cucu Mbah Dempok dan dua tokoh Kudus, Sunan Kudus dan Syekh Jangkung (Saridin), menyertainya sembari bercakap-cakap dan menyapa warga. Di belakangnya, rombongan para pembawa jenang yang dibentuk menjadi gunungan, miniatur Menara Kudus, dan masjid. Sebagian lagi membawa jenang-jenang yang ditaruh dalam tebok atau tampah.

Kemudian menyusul visualisasi proses pembuatan jenang, ada yang membawa linggis (entong panjang seperti dayung sampan), kawah (wajan besar), kalo (sejenis tampah dari niru), ember, dan parutan.. Pada zaman Mbah Dempok, jenang yang diproduksi itu dikenal sebagai jenang bubur gamping karena terbuat dari tepung beras, garam, dan santan kelapa.

Kirab Tebokan merupakan salah satu bentuk pelestarian tradisi dan sejarah pembuatan jenang. Hal itu tidak terlepas dari kisah Mbah Dempok dan cucunya. Konon, ketika Mbah Dempok Soponyono sedang bermain burung dara di tepi Sungai Kaliputu, cucunya tercebur dan hanyut. Meski tertolong, cucu Mbah Dempok diganggu Banaspati, makhluk halus berambut api.

Sunan Kudus menyimpulkan cucu Mbah Dempok telah tiada, tetapi Syekh Jangkung menyatakan cucu Mbah Dempok mati suri. Untuk membangunkannya, Syekh Jangkung meminta ibu-ibu membuat jenang bubur gamping. Mitos itulah yang melatarbelakangi berkembangnya industri jenang Kudus. Mitos itu pulalah yang menginspirasi ibu-ibu Desa Kaliputu bekerja di industri jenang kudus.

Di Desa Kaliputu terdapat 48 industri jenang skala besar maupun kecil. Jenang Kudus Mubarok yang berada di lain desa pun cikal bakal industrinya berangkat dari Desa Kaliputu dan berkembang menjadi yang produsen jenang kudus yang terbesar di kabupaten kudus. Setiap industri jenang di desa tersebut menyerap 15-50 tenaga kerja. Setidaknya ada sekitar 960 warga yang bekerja di sektor industri jenang dari total jumlah penduduk di Desa Kaliputu 2.094 orang.

Jenang merupakan ekonomi unggulan Desa Kaliputu sekaligus Kudus. Melalui industri jenang inilah setiap hari asap dapur warga selalu mengepul.Oleh karena itu, supaya kisah jenang diketahui lintas generasi di Kudus, Suyadi menambahkan, Kirab Tebokan akan dilakukan terus setiap tahun dengan harapan  generasi berikutnya tidak akan malu bekerja sebagai pembuat jenang serta mau melestarikan makanan khas Kudus itu.

About Pakdhe Phantom

My Life Is My Journey
This entry was posted in Culinary. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s