Rasa Sate Kerbau Pak Min Jastro Yang Melegenda


Sate memang sudah umum disajikan, namun rasanya belum mantap jika saat di Kudus tidak mencicipi hidangan khas yang sudah banyak dikenal orang baik dari Kudus bahkan hingga luar negeri, yaitu sate kerbau buatan Pak Min Jastro.

Hidangan khas Kudus berupa sate kerbau sebenarnya sudah tidak asing lagi, namun di tangan Parimin (60) yang akrab dipanggil Pak Min, yang dibantu oleh istrinya Juminah (55) warga Desa Loram Wetan Gang Rejomulyo Bacin 334, Jati Kudus, sajian ini mempunyai rasa yang khas dan bahkan cukup melegenda di kalangan penikmat kuliner.

Sejarah sate Pak Min Jastro dimulai pada tahun tahun 1950. Waktu itu yang membuka usaha pertama kali adalah Pak Jastro Jasni dan Ibu Surip, yang saat itu keduanya masih berjualan keliling kota Kudus menggunakan pikulan, dari tengah hingga
ke sudut kota.

Namun seiring perkembangan jaman dan melihat usia, mereka berdua akhirnya memilih membuka lapak dagangannya berdekatan dengan salah satu perusahan bus, pada awal tahun 70an. Dengan pertimbangan yang membeli sate adalah calon penumpang bus.

Soal nama, Jastro diambil dari nama mertuanya pendiri usaha ini, sedangkan nama Min diambil dari nama Parimin menantunya, sehingga digabungkan menjadi nama Min Jastro. Sampai sekarang usaha itu diteruskan oleh Parimin, yang membuka dasarannya di pertokoan Ronggolawe.

Mengenai resep yang digunakan untuk membuat rasa lezat sate kerbau yaitu dengan tidak sembarangan memilih daging kerbau. “Bagian-bagian yang kami pilih untuk dijadikan sate adalah bagian leher belakang kebawah (lulur), dan bagian punggung kebawah (limas), sehingga dagingnya empuk alami,” kata Parimin.

Selain resep dalam memilih daging kerbau, rahasia kelezatan lainnya terletak pada sambal kuah sebagai pelengkap saat menikmati sate miliknya, yang dibuat dari bahan bahan alami. Seperti serondeng kelapa, kacang, gula Jawa, tumbar dan dikolaborasi dengan kentang.

“Kami sengaja memakai bumbu-bumbu alami seperti yang diwariskan oleh orang tua kami, sehingga menciptakan rasa yang cukup khas dan bertahan hingga sekarang,” jelasnya.

Namun jangan kaget jika jam buka warungnya hanya sebentar, mulai pukul 07.30-09.00 WIB, karena biasanya sejak pagi sudah banyak yang antre. “Rata-rata dibawah jam 10.00 sudah habis, apalagi saat akhir pekan atau liburan,” katanya.

Uniknya lagi kuliner satu ini bisa dijadikan sebagai oleh-oleh khas Kudus yang bisa dibawa hingga keluar kota. “Sebagian besar yang makan disini adalah pelaanggan lama yang sekedar ingin bernostalgia, seperti dari Jakarta, Surabaya, dan Bandung bahkan hingga Malaysia dan Singapura,” ujarnya.

Mereka juga memberikan tips jika sajian ini akan dibawa sebagai oleh-oleh, yaitu ditempatkan di tempat yang dingin serta bumbunya dipisah, maka dengan kondisi demikian bisa bertahan dua hari dua malam. “Dan jika ingin menikmatinya tinggal memanaskan sambal kuahnya dan kemudian disiramkan di atas sate. Dan soal harga cukup terjangkau, satu porsi sate kerbau isi 10 tusuk cukup Rp 22.000, nasi Rp 2.000 dan minumnya teh hangat Rp 1.000,” jelasnya.

Sejumlah penikmat kuliner mengaku rasa sate kerbau Pak Min Jastro sangat lezat dan tidak pernah berubah.

About Pakdhe Phantom

My Life Is My Journey
This entry was posted in Culinary. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s