Lentog Tanjung Kudus


Memasuki wilayah Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati, Kudus, Anda memasuki wilayah yang terkenal dengan lentog. Yaitu masakan dengan komposisi lontong dengan lauk sayur nangka muda (hampir mirip gudeg), sayur tahu dan tempe, diguyur santan kental, dan ditaburi bawang goreng.

Biasanya disajikan dengan piring kecil dialasi daun pisang, pas untuk menu sarapan. Lentog lebih nikmat disantap dengan lauk tambahan sate telur puyuh bumbu semur, sate usus, ditambah kerupuk.

Kini, lentog sudah jadi ikon masakan dari Kudus. Di sebuah jalan desa ini, sekitar 20-an kios-kios kecil berderet menjajakan lentog. Selebihnya, pedagang bertebaran di area desa. “Sekarang, banyak juga yang jualan ke luar desa. Bahkan, hampir ada di setiap pelosok Kudus. Ada yang dagang sampai luar kota. Sekarang ini, kan, sulit cari pekerjaan. Banyak anak-anak muda yang mencari nafkah dengan jualan lentog,” tutur Sumitro (43), salah satu penjual lentog yang namanya sudah kondang.

Sumitro mengisahkan, lentog memang makanan khas di desanya. Lalu, oleh generasi kakeknya, lentog mulai “diperkenalkan” keluar desa. Semula, yang menjual lentog adalah kaum lelaki. Mereka dagang secara berkeliling dengan memikul dagangan mulai pagi hingga siang. “Ternyata, masakan ini disukai masyarakat,” kisah Sumitro seraya mengatakan lentog pas untuk menu sarapan.

Waktu terus berjalan, usaha ini pun begitu menjanjikan. Sumitro pun meneruskan jejak kakeknya dengan mulai berjualan tahun 1982, juga dengan keliling. “Saya lima belas tahun keliling. Nah, sejak tahun 1996, kepala Desa Tanjung Karang mengumpulkan pedagang dengan membuat kios-kios. Pedagang yang semula tersebar, termasuk saya, dikumpulkan di satu tempat. Ternyata, malah lebih ramai, apalagi pas hari Minggu atau hari libur. Karena sudah punya lokasi, banyak wanita yang mulai jualan,” ujar bapak dua anak ini.

Sumitro ingin usahanya lebih maju. Pada hari biasa, kios ia serahkan ke adiknya, Sulasi (38). Ia sendiri memilih jualan di dekat lokasi sebuah pabrik rokok, masih di wilayah Tanjung Karang. “Saya jualan di kios hari Minggu dan libur. Wah, saat itu benar-benar ramai. Saya membutuhkan sekitar 15 kg beras untuk bahan membuat lontong. Hari biasa, sih, paling hanya 6 kg untuk dua tempat.”

Sekilo beras, lanjut Sumitro, bisa menjadi sekitar 30 porsi. Dengan harga per porsi Rp 2 ribu, saat Minggu dan hari libur, Sumitro bisa mendapat pendapatan kotor Rp 900 ribu – Rp 1,5 juta. “Untuk hari biasa, saya bisa mengantongi uang Rp 300 ribu. Hasilnya lumayan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan menyekolahkan anak-anak,” ujar Sumitro yang anak sulungnya kuliah di Universitas Muria Kudus.

Sebenarnya Sumitro ingin membuka cabang lagi. Namun, kendalanya hanya soal tenaga. “Soalnya, untuk memasak butuh waktu lama. Bikin lontong saja bisa sampai lima jam. Usai jualan pagi sampai jam satu siang, saya pulang dan langsung membuat lontong. Malamnya meracik membuat sayuran. Biasanya jam 9 malam baru keluar dari dapur.”

About Pakdhe Phantom

My Life Is My Journey
This entry was posted in Culinary. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s